Titrasi Asam basa adalah pengukuran suatu larutan dari suatu reaktan yang dibutuhkan untuk bereaksi sempurna dengan sejumlah reaktan tertentu lainnya. Titrasi asam basa merupakan titrasi penetralan. Titrasi ini bertujuan untuk menetapkan suatu sampel asam dengan larutan baku basa (alkalimetri) atau sampel basa dengan larutan baku asam (asidimetri).

Titrasi asam basa melibatkan reaksi antara asam dan basa, sehingga akan terjadi perubahan pH larutan yang dititrasi. Perubahan ini terjadi dari larutan asam menjadi netral atau larutan basa menjadi netral, inilah yang dimaksud dengan penetralan.

Reaksi penetralan terjadi saat ion hydrogen yang berasal dari asam bereaksi dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral. Netralisasi juga dapat dikatakan sebagai reaksi antara pemberi proton (asam) dengan penerima proton (basa).

Titrasi asam basa dibagi menjadi 5 jenis, yaitu:

1.    Asam kuat – basa kuat

2.    Asam kuat – basa lemah

3.    Asam lemah – basa kuat

4.    Asam kuat – garam dari asam lemah

5.    Basa kuat – garam dari basa lemah

Indikator yang digunakan dalam titrasi asam basa adalah asam lemah atau basa lemah (senyawa organik) yang dalam larutannya warna moekul-molekulnya berbeda dengan warna ion-ionnya. Zat indikator dapat berupa asam atau basa yang larut, stabil, dan menunjukan perubahan warna yang kuat.

Saat indikator berubah warna, menunjukan bahwa titik akhir titrasi telah dicapai. Yaitu saat pH dilingkungannya berubah. Beberapa penyebabnya adalah:

1.    Indikator asam basa ialah asam organik lemah atau basa organik lemah, jadi dalam larutan mengalami kesetimbangan pengionan,

2.    Molekul-molekul indikator tersebut mempunyai warna yang berbeda dengan warna ion-ionnya,

3.     Letak trayek pH pada pH tinggi, atau rendah, atau ditengah tergantung dari besar kecilnya Ka atau Kb indikator yang bersangkutan,

4.    Terjadinya trayek merupakan akibat kesetimbangan dan karena kemampuan mata untuk membedakan campuran warna-warna.

Beberapa contoh Indikator asam basa:

a.    Methyl Orange (MO).
Indikator MO merupakan indikator asam-basa yang berwarna merah dalam suasana asam dan berwarna jingga dalam suasana basa, dengan trayek pH 3,1 – 4,4.
Penggunaan MO dalam titrasi :

1.    Tidak dapat digunakan untuk titrasi asam kuat oleh basa kuat, karena pada titik ekivalen tidak tepat memotong pada bagian curam dari kurva titrasi, hal ini disebabakan karena titrasi ini saling menetralkan sehungga akan berhenti pada pH 7.

2.    Titrasi Asam lemah oleh Basa kuat. Jelas tidak boleh digunakan karena pada pH + 9. untuk konsentrasi 0,1 M

3.    Titrasi Basa lemah oleh Asam kuat, dapat dipakai, tetapi harus hati-hati, titrasi harus dihentikan asal sudah terjadi perubahan warna.

4.    Titrasi Garam dari Asam lemah oleh Asam kuat. MO dapat dipakai tetapi titrasi harus dihentikan setelah warna berubah.

b.    Phenol Phtalein (PP)
Indikator Phenol phtalein dibuat dengan cara kondensasi anhidrida ftalein (asam ftalat) dengan fenol. Trayek pH 8,2 – 10,0 dengan warna asam yang tidak berwarna dan berwarna merah muda dalam larutan basa.
Penggunaan PP dalam titrasi :

1.     Tidak dapat digunakan untuk titrasi asam kuat oleh basa kuat, karena pada titik ekivalen tidak tepat memotong pada bagian curam dari kurva titrasi, hal ini disebabakan karena titrasi ini saling menetralkan sehingga akan berhenti pada pH 7, sedangkan warna berubah pada pH 8.

2.    Titrasi Asam lemah oleh Basa kuat. boleh digunakan karena pada pH + 9. untuk konsentrasi 0,1 M

3.     Titrasi Basa lemah oleh Asam kuat, tidak dapat dipakai,

4.    Titrasi Garam dari Asam lemah oleh Asam kuat. PP tidak dapat dipakai. Trayek pH tidak sesuai dengan titik ekivalen.

c.     Methyl Red
Indikator methyl Red adalah indikator asam basa yang memiliki trayek pH 4,2 – 6,3 dengan berwarna merah dalam suasana asam dan berwarna kuning dalam suasana basa.
Penggunaan MR dalam titrasi :

1.    Asam kuat dengan Basa kuat. Tidak dapat dipakai karena pada pH 6,3 sudah terjadi perubahan belum mencapai pH 7

2.    Asam lemah dengan Basa kuat. Jelas tidak boleh digunakan karena TE pada pH + 9

3.    Basa lemah dengan Asam kuat. Tidak disarankan untuk dipakai karena TE pada pH 7, sedangkan indiktor bau berubah pada pH 6,3.

4.    Basa kuat dengan Asam kuat. Tidak baik, karena sebelum pada TE pH + 5, indikator sudah berubah warnanya

5.    Garam Asam lemah dari Asam kuat. Tidak baik, karena sebelum pada TE pH + 5, indikator sudah berubah warnanya

d.    Brom Timol Blue (BTB)
Indikator BTB atau biru bromtimol dalam larutan asam berwarna kuning dan dalam larutan basa berwarna biru. Warna dalam keadaan asam disebut warna asam dan warna dalam keadaan basa disebut warna basa. Trayek pH pada 6,0 – 7,6.
Penggunaan BTB dalam titrasi :

1.     Asam kuat dengan Basa kuat, dapat dipakai dan paling ideal, dengan kesalahan titrasi yang kecil. Titrasi encapai pH 7 dengan warna hijau. Ini berarti larutan yang semula kuning berubah jadi hijau, tak perlu sampai jadi biru.

2.     Asam lemah dengan Basa kuat. Kurang baik karena trayek pH tidak seluruhnya memotong bagian curam di kurva, sehingga penambahan setetes titrant tidak dapat mengubah warna larutan dari warna kuning menjadi biru. Titrasi harus segera dihentikan pada saat mulai tampak warna biru.

3.    Basa lemah dengan Asam kuat. Tidak baik, karena terlalu awal warna timbul .

4.    Garam dari Asam lemah oleh Asam kuat. Tidak baik. karena terlalu awal warna timbul .